Balai Taman Nasional Meru Betiri
Kawasan TNMB
pdfprintemail

Letak Dan Luas

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri secara geografis terletak pada 113038'38" - 113058'30" BT dan 8020'48" - 8033'48" LS, sedangkan secara administrasi pemerintahan terletak di Kabupaten Jember dan Kabupaten Banyuwangi. Adapun batas-batas wilayah kawasannya meliputi :

  1. Sebelah Utara berbatasan dengan kawasan PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Malangsari dan kawasan hutan Perum PERHUTANI.
  2. Sebelah Timur berbatasan dengan Kali Sanen, kawasan PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Sumberjambe, PT. Perkebunan Treblasala dan Desa Sarongan.
  3. Sebelah Selatan berbatasan dengan Samudera Indonesia.
  4. Sebelah Barat berbatasan dengan kawasan hutan Perum PERHUTANI, PT. Perkebunan Nusantara XII Kebun Kalisanen, Kebun Kotta Blater, Desa Sanenrejo, Desa Andongrejo dan Desa Curahnongko.

Balai Taman Nasional Meru Betiri dalam melaksanakan pengelolaan terhadap kawasannya agar berfungsi secara optimal dikelola dengan sistem zonasi berdasarkan Keputusan Direktur Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Nomor : SK.101/IV-SET/2011 tanggal 20 Mei 2011 dengan pembagian zonasi sebagai berikut :

Zonasi Taman Nasional Meru Betiri seluas 55.845 Ha, terdiri dari :

a. Zona Inti seluas 28.707,7 Ha

Zona inti terletak di bagian timur dan sebagian bagian barat kawasan Taman Nasional Meru Betiri; dimana pada zona ini mutlak dilindungi, di dalamnya tidak diperbolehkan adanya perubahan apapun oleh aktivitas manusia. Kegiatan yang diperbolehkan pada zona ini hanya yang berhubungan dengan ilmu pengetahuan, pendidikan dan penelitian.

b. Zona Rimba seluas 20.897,2 Ha

Zona rimba tersebar mengelilingi zona inti, namun sebagian besar terletak di bagian barat laut dan sebagian kecil terletak di bagian selatan kawasan Taman Nasional Meru Betiri, dimana pada zona ini dapat dilakukan kegiatan sebagaimana kegiatan pada zona inti dan kegiatan wisata alam yang terbatas.

c. Zona Perlindungan Bahari seluas 2.603 Ha

Zona Perlindungan Bahari merupakan zona rimba yang berada di wilayah perairan laut memanjang di sebelah selatan Resort Wonoasri hingga Resort Rajegwesi.

d. Zona Pemanfaatan seluas 273,3 Ha

Zona pemanfaatan terletak pada empat lokasi terpisah, yaitu di Pantai Nanggelan, Pantai Bandealit, Pantai Sukamade, dan Pantai Rajegwesi kawasan Taman Nasional Meru Betiri, dimana pada zona ini dapat dilakukan kegiatan sebagaimana pada zona inti dan zona rimba, dan diperuntukkan bagi pusat pembangunan sarana/prasarana dalam rangka pengembangan kepariwisataan alam dan rekreasi.

d. Zona Rehabilitasi seluas 2.733,5 Ha

Zona rehabilitasi terletak di dua lokasi terpisah, disebelah barat dan sebagian kecil bagian tenggara kawasan Taman Nasional Meru Betiri, dimana pada zona ini dapat dilakukan kegiatan rehabilitasi kawasan yang sudah rusak akibat perambahan.

e. Zona Tradisional seluas 285,3 Ha

Zona tradisional secara sporadik di bagian barat kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Zona ini merupakan bagian taman nasional yang ditetapkan untuk kepentingan pemanfaatan tradisional oleh masyarakat yang karena kesejarahannya mempunyai ketergantungan dengan sumberdaya alam.

f. Zona Khusus seluas 345 Ha

Zona khusus terletak di sebelah tenggara (Rajegwesi) dan sebagian kecil di sebelah barat laut (Bandealit). Zona ini adalah bagian dari taman nasional karena kondisi yang tidak dapat dihindarkan terdapat kelompok masyarakat dan sarana penunjang kehidupannya yang tinggal sebelum wilayah tersebut ditetapkan sebagai taman nasional antara lain sarana telekomunikasi, fasilitas transportasi dan listrik.

Gambar 4.1. Peta zonasi tnmb

Topografi

Topografi Taman Nasional Meru Betiri umumnya berbukit-bukit dengan kisaran elevasi mulai dari tepi laut hingga ketinggian 1.223 meter dari permukaan laut (dpl) di puncak Gunung Betiri. Gunung yang terdapat di Seksi Konservasi Wilayah II Ambulu adalah G. Rika (535 m dpl), G. Guci (329 m dpl), G. Alit (534 m dpl), G. Gamping (538 m dpl), G. Sanen (437 m dpl), G. Butak (609 m dpl), G. Mandilis (844 m dpl) dan G. Meru (344 m dpl). Sedangkan gunung yang terdapat di Seksi Konservasi Wilayah I Sarongan adalah G. Betiri (1.223 m dpl) yang merupakan gunung tertinggi, G. Gendong (840 m dpl), G. Sukamade (806 m dpl), G. Sumberpacet (760 m dpl), G. Permisan (568 m dpl), G. Sumberdadung (520 m dpl) dan G. Rajegwesi (160 m dpl).

Pada umumnya keadaan topografi di sepanjang pantai berbukit-bukit sampai bergunung-gunung dengan tebing yang curam. Sedangkan pantai datar yang berpasir hanya sebagian kecil, dari Timur ke Barat adalah Pantai Rajegwesi, Pantai Sukamade, Pantai Permisan, Pantai Meru dan Pantai Bandealit. Sungai-sungai yang berada di kawasan Taman Nasional Meru Betiri antara lain Sungai Sukamade, Sungai Permisan, Sungai Meru dan Sungai Sekar Pisang yang mengalir dan bermuara di pantai selatan Pulau Jawa.

Tipe Iklim

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri bagian Utara dan Tengah termasuk tipe iklim B yaitu daerah tanpa musim kering dan hutan hujan tropika yang selalu hijau, sedangkan di bagian lainnya termasuk tipe iklim C yaitu daerah dengan musim kering nyata dan merupakan peralihan hutan hujan tropika ke hutan musim berdasarkan tipe iklim Schmidt dan Ferguson.

Curah hujan di kawasan ini bervariasi antara 2.544 - 3.478 mm per tahun dengan bulan basah antara bulan Nopember - Maret, dan kering antara April - Oktober. Di daerah perkebunan Bandealit (sebelah barat) rata-rata curah hujan sekitar 2.500 mm, sedangkan bagian di daerah perkebunan Sukamade (sebelah tengah) rata-rata curah hujan tahunan sekitar 4.000 mm.

Hidrogeologi

Di kawasan Taman Nasional Meru Betiri terdapat air tanah dan produktifitas akifer yaitu :

  1. Akifer bercelah atau berarang, produktifitasnya kecil dan daerah air tanah langka. Daerah air langka ini terdapat di sebagian besar kawasan Taman Nasional Meru Betiri. Akifer produktif kecil berarti umumnya keterusan air sangat rendah, air tanah setempat dangkal dalam jumlah terbatas dapat diperoleh pada zona pelapukan dari batuan padu.
  2. Akifer dengan aliran melalui ruang antar butir. Terdapat di daerah dataran pantai, cekungan antar gunung dan kaki gunung api.

Untuk komposisi litologi batuan dan kelulusannya, kawasan Taman Nasional Meru Betiri terdiri dari :

  1. Batu gamping terumbu berlapis, dengan tingkat pembentukan karst yang beragam. Kelulusan sedang sampai tinggi.
  2. Batuan volkan mengandung leusit. Kelulusan rendah sampai sedang.
  3. Aluvium endapan sungai, umumnya tersusun oleh bahan-bahan berbutir halus (lempung lanau, dengan selingan pasiran). Umumnya kelulusannya sedang hingga rendah.

Tanah dan Geologi

Secara umum jenis tanah di kawasan Taman Nasional Meru Betiri merupakan asosiasi dari jenis aluvial, regosol dan latosol. Tanah aluvial umumnya terdapat di daerah lembah dan tempat rendah sampai pantai, sedangkan regosol dan latosol umumnya terdapat di lereng dan punggung gunung. Menurut Suganda dkk (1992) geologi kawasan Taman Nasional Meru Betiri terdiri dari :

  1. Aluvium : kerakal, kerikil, pasir dan lumpur.
  2. Formasi Sukamade : batu gunung terumbu bersisipan batu lanau dan batu berpasir.
  3. Formasi Puger : batu gunung terumbu bersisipan breksi batu gunung dan batu gamping hutan.
  4. Formasi batu ampar : perselingan batu pasir dan batu lempung bersisipan tuf, breksi dan konglomerat.
  5. Anggota batu gamping formasi Meru Betiri : batu gamping, batu gamping tufan dan napal.
  6. Formasi Meru Betiri : perselingan breksi gunung api, lava dan tuf, terpropilitan.
  7. Formasi Mandiku : breksi gunung api dan tuf, breksi berkomponen andesit dan basal bersisipan tuf.
  8. Batuan terobosan : granodiorit, diorit dan dasit.

Aluvium, formasi Sukamade, formasi Puger, formasi Batu ampar dan anggota batu gamping formasi Meru Betiri berasal dari batuan endapan permukaan dan batuan sedimen. Untuk formasi Meru Betiri dan formasi Mandiku berasal dari batuan gunung api. Sedangkan batuan terobosan berasal dari batuan terobosan.

Aluvium terbentuk pada zaman holosen kuartier, formasi batu ampar terbentuk pada zaman oligosen, formasi Mandiku dan formasi Puger terbentuk pada zaman akhir miosen tersier, batuan terobosan terbentuk pada zaman tengah miosen tersier sedangkan formasi Meru Betiri, formasi Sukamade, anggota batu gamping formasi Meru Betiri terbentuk pada zaman awal miosen tersier.

Aksesibilitas

Kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dicapai melalui dua jalur :

a. Jalur melalui Jember

Jember - Ambulu - Curahnongko - Bandealit sepanjang 64 Km dari arah Jember, dapat ditempuh selama 1,5 jam.

b. Jalur melalui Banyuwangi

Jember - Glenmore - Sarongan - Sukamade sepanjang 103 Km, dapat ditempuh selama 3,5 - 4 jam.
Jember - Genteng - Jajag - Pesanggaran - Sarongan - Sukamade sepanjang 103 Km, dapat ditempuh selama 3,5 - 4 jam.
Jember - Banyuwangi - Genteng - Jajag - Pesanggaran - Sarongan - Sukamade sepanjang 127 Km, dapat ditempuh selama 4 - 4,5 jam.

Adapun gambaran pencapaian menuju kawasan Taman Nasional Meru Betiri dapat dilihat pada peta sebagaimana Gambar 4.2.

peta
Gambar 4.2. Peta aksesibilitas menuju kawasan tnmb

Sumber Daya Air

Sumber daya air yang ada di dalam kawasan TNMB adalah sumber daya air berupa sungai. Adapun nama-nama sungai yang ada di dalam kawasan TNMB dapat dilihat pada Tabel 4.2.

Tabel 4.2. Nama-nama Sungai di Dalam Kawasan TNMB

Induk Sungai

Anak Sungai

Kali Lanang

Kali Kuning

Kali Bandealit

Kali Cawang, Kali Bon Pantai

Kali PA

-

Kali Tapen

-

Kali Andongrejo

-

Kali Sanenrejo

Kali Gadung, Kali Towo, Kali Tumpanglima, Kali Sumber Pacet

Kali Karang Tambak

Kali Jambe, Kali Kawat

Kali Sukamade

-

Sumber : Peta topografi tnmb

Potensi sumber daya air yang berupa sungai tersebut sebagian telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan untuk berbagai keperluan. Adapun data pemanfaatan sumber daya air oleh masyarakat tersaji dalam Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Jenis Pemanfaatan Sumber Daya Air dalam Kawasan TN. Meru Betiri

Sumber Daya Air

Pemanfaatan

Pengguna

Aliran sungai

Kebutuhan rumah tangga :

  • Minum/ masak mandi
  • Mencuci

Perkebunan :
-Pencucian kopi
-Penyiraman tanaman kebun

-Masyarakat sekitar kawasan
-Perkebunan

Pengairan :
Irigasi teknis

Sumber air (sumur)`

Kebutuhan rumah tangga :

  • Minum/ masak
  • Mandi
  • Mencuci

Sumber : Laporan valuasi ekonomi kawasan konservasi tnmb, 2007

Dari data diketahui bahwa sumber daya air di dalam kawasan TNMB belum dimanfaatkan secara komersial namun sebagian besar dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar kawasan untuk kepentingan rumah tangga.

Di dalam kawasan TNMB sendiri terdapat areal perkebunan yaitu PT Perkebunan Bandealit dan PT Perkebunan Sukamade Baru yang ditetapkan berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor : 131/Kpts-II/1998 dan Nomor : 132/Kpts-II/1998 tanggal 23 Pebruari 1998. Dengan adanya perkebunan tersebut diikuti oleh kebutuhan pemukiman bagi karyawan dan buruh perkebunan di dalam kawasan. Karyawan dan buruh tersebut secara otomatis menggunakan sumber-sumber air yang ada di dalam kawasan TNMB untuk keperluan sehari-hari maupun untuk keperluan kegiatan kebun.

Share |
Foto Terbaru
Visit Meru Betiri
Video Terbaru
Penyu Bertelur
Pengunjung
Total Pengunjung : 443376
Hari Ini : 36
Bulan Ini : 34420
Sedang Online : 3
Peta Pengunjung